Delsos Larantuka

Senin, 21 Agustus 2017

MENGAIS FENOMENA BURUH MIGRAN

"MENGAIS FENOMENA BURUH MIGRAN"

RM.  MARIANUS WELAN,  PR
PENDAHULUAN:
Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas penduduk ada yang bersifat nonpermanen (sementara) misalnya turisme baik nasional maupun internasional, dan ada pula mobilitas penduduk permanen (menetap). Mobilitas penduduk permanen disebut migrasi. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan melewati batas negara atau batas administrasi dengan tujuan untuk menetap.
1. PENGERTIAN MIGRASI
Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
Ada 2 jenis migrasi:
Migrasi internasional:  merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara lain.
Migrasi internal: merupakan perpindahan penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.
Migrasi Internasional: masih dibagi atas 3:
•      Imigrasi, yaitu masuknya penduduk dari suatu negara ke negara lain dengan tujuan menetap. Orang yang melakukan imigrasi disebut imigran. Afganistan ke Indonesia
•      Emigrasi, yaitu keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain. Orang yang melakukan emigrasi disebut emigran. Indon ke Malay
•      Remigrasi atau repatriasi, yaitu kembalinya imigran ke negara asalnya.
WNI yg ada di Malaysia, kembali ke Indonesia.
2. SEJARAH SINGKAT MIGRASI INDONESIA
Sejarah migrasi Indonesia memiliki hubungan dengan sejarah perkembangan masyarakat secara ekonomi politik, walaupun ada pengaruh lainnya.Berangkat dari latarbelakang ini: maka diketahui praktek migrasi yang telah terjadi sejak ribuan tahun lalu di sebuah negeri kepulauan besar yang disebut Nusantara (sekarang Indonesia) tidak terlepas dan menjadi bagian dari perkembangan masyarakat.
Migrasi awal dalam sejarah Indonesia ditandai dengan kedatangan suku bangsa asing yang membawa dan memperkenalkan sebuah sistem ekonomi baru yang didasarkan pada hubungan kepemilikan budak. Dan inilah satu masa yang menjadi titik mula diawalinya praktek penindasan satu klas terhadap klas yang lain, di mana satu suku bangsa menjadi klas tuan budak dan kelas yang lain dipaksa menjadi budak.
Dalam perkembangannya kemudian, kedatangan para pedagang yang memiliki latar belakang Islam baik dari Gujarat, India maupun Cina telah menimbulkan pertentangan dengan tuan-tuan budak sebagai penguasa sebelumnya yang berlatar belakang Hindu dan Budha. Semakin berkembangnya perdagangan dan masuknya Islam ke Nusantara menandai peralihan ke zaman Feodalisme, ditandai dengan berkembangnya pertanian dan lahirnya kaum tani.
2.1. Zaman PRA KOLONIAL:
Sejarah Indonesia sebelum masuknya kolonialisme asing terutama Eropa, adalah sejarah migrasi yang memiliki karakter atau sifat utama berupa perang dan penaklukan satu suku bangsa atau bangsa terhadap suku bangsa atau bangsa lainnya. Pada periode yang kita kenal sebagai zaman pra sejarah, maka dapat diketemukan bahwa wilayah yang saat ini kita sebut sebagai Indonesia, telah menjadi tujuan migrasi suku bangsa yang berasal dari wilayah lain. Tahun 2000 atau 3000 sebelum Masehi, suku bangsa Mohn Kmer dari daratan Tiongkok bermigrasi di Indonesia karena terdesaknya posisi mereka akibat berkecamuknya perang antar suku.
Kedatangan mereka dalam rangka mendapatkan wilayah baru, maka mendorong mereka  untuk  menaklukan suku bangsa lain yang telah berdiam lebih dulu di Indonesia.
Karena mereka memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi berupa alat kerja dan perkakas produksi serta perang yang lebih maju, maka upaya penaklukan berjalan dengan lancar. Selain menguasai wilayah baru, mereka juga menjadikan suku bangsa yang dikalahkannya sebagai budak.
Pada perkembangannya, bangsa-bangsa lain yang lebih maju peradabannya, ke Indonesia, mula-mula sebagai tempat persinggahan dalam perjalanan dagang mereka, dan kemudian berkembang menjadi upaya yang lebih terorganisasi untuk penguasaan wilayah, hasil bumi maupun jalur perdagangan.
Misalnya
Kedatangan suku bangsa Dravida dari daratan India -yang sedang mengalami puncak kejayaan masa perbudakan di negeri asalnya- , berhasil mendirikan kekuasaan di beberapa tempat seperti Sumatra dan Kalimantan. Mereka memperkenalkan pengorganisasian kekuasaan dan politik secara lebih terpusat dalam bentuk berdirinya kerajaan kerajaan Hindu dan Budha. Puncaknya: Kerajaan Majapahit
Bidang Perdagangan, terjadi emigrasi dari para saudagar dan pedagang dari daratan Arab yang kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan Islam baru di daerah pesisir pantai untuk melakukan penguasaan atas bandar-bandar perdagangan. Berdirinya kerajaan Islam telah mendesak kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha ke daerah pedalaman, dan mulai memperkenalkan sistem bercocok tanam atau pertanian yang lebih maju dari sebelumnya berupa pembangunan irigasi dan perbaikan teknik pertanian, menandai mulai berkembangnya zaman feodalisme.
Pendatang dari Cina juga banyak berdatangan terutama dengan maksud mengembangkan perdagangan seperti misalnya ekspedisi kapal dagang Cina di bawah pimpinan Laksamana Ceng Hong yang mendarat di Semarang.
Pada masa ini juga sudah berlangsung migrasi orang-orang Jawa ke semenanjung Malaya yang singgah di Malaysia dan Singapura untuk bekerja sementara waktu guna mengumpulkan uang agar bisa melanjutkan perjalanan ke Mekah dalam rangka ziarah agama.
Demikian juga orang-orang di pulau Sangir Talaud yang bermigrasi ke Mindano (Pilipina Selatan) karena letaknya yang sangat dekat secara geografis.
Ciri-ciri Migrasi Awal: Pra kolonial:
Wilayah Nusantara menjadi tujuan migrasi besar-besaran dari berbagai suku bangsa lain di luar wilayah nusantara. Sekalipun pada saat itu belum dikenal batas-batas negara, tetapi sudah terdapat migrasi yang bersifat internasional mengingat suku-suku bangsa pendatang berasal dari daerah yang sangat jauh letaknya.
Motif atau alasan terjadinya migrasi pertama-tama adalah ekonomi (pencarian wilayah baru untuk tinggal dan hidup, penguasaan sumber-sumber ekonomi dan jalur perdagangan) dan realisasi hal tersebut menuntut adanya kekuasaan politik dan penyebaran kebudayaan pendukung.
Proses migrasi tersebut ditandai dengan berlangsungnya perang dan penaklukan, cara-cara yang paling vulgar dalam sejarah umat manusia.
Migrasi juga telah mendorong perkembangan sistem yang lebih maju dari masa sebelumnya seperti pengenalan organisasi kekuasaan yang menjadi cikal bakal negara (state) dan juga sistem pertanian.
2. 2. PERIODE KOLONIAL:
Proses migrasi: dikontrol oleh kebijakan dan kekuasaan kolonial. Contoh, pada masa awal kolonialisme, VOC mulai berkuasa. VOC-lah yang menetukan system pemerintahan, termasuk mengatur migrasi yang terjadi pada masyarakat. Tujuannya; membantu  perdagangan maupun mengelola pertanian di Batavia dan gelombang kedatangan mereka telah membentuk perkampungan Cina di Batavia. Pada perkembangan berikutnya, jumlah orang Cina yang bermigrasi ke Indonesia mengalami peningkatan pesat ketika dibukanya perkebunan-perkebunan asing baik di Jawa maupun Sumatra Timur pada akhir tahun 1900 an di mana sebagian besar dari mereka dijadikan buruh perkebunan.
Demikian juga pada abad 18 dan 19, kolonialisme Belanda melakukan ekspor manusia dari Manggarai NTT ke negara-negara Eropa sebagai budak.
Bahkan pada akhir abad ke 19, dengan dibukanya perkebunan-perkebunan baru di Sumatra Timur, pemerintah kolonial Belanda mengirim ribuan orang Jawa ke Sumatra untuk diperkerjakan sebagai buruh di perkebunan seperti perkebunan tembakau maupun juga pabrik gula.
Ekspor orang Jawa ternyata tidak hanya ke Sumatra Timur tetapi juga ke Suriname, Kaledonia Baru dan juga Vietnam. Pemerintah kolonial Belanda menutupi praktek ekspor manusia ini dengan bungkus program Politik Etis atau Balas Budi yang mereka sebarluaskan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Catatan penting pada masa kolonial bahwa migrasi yang berlangsung pada waktu itu sepenuhnya didominasi oleh kebijakan kolonial yang diabdikan untuk kepentingan negeri kolonial. Terutama dalam hal pengerahan atau mobilisasi tenaga kerja murah ke tempat-tempat di mana sumber keuntungan kolonial berada, dan pada saat yang bersamaan telah membawa jutaan manusia dari berbagai asal usul etnis dan bangsa ke dalam situasi penderitaan yang sangat berat.
2.3. PERIODE PASCA KOLONIAL (MULAI DIHITUNG: SEJAK KEMERDEKAAN RI: 17 AGUSTUS 1945.)
Walaupun sudah namun keadaan ekonomi, politik dan kebudayaan tidak mengalami perubahan secara mendasar.
Indikator:
Ekonomi Indonesia masih tetap di bawah dominasi ekonomi kolonial sekalipun tidak secara langsung. Imperialisme (kapitalisme monopoli asing) khususnya Amerika Serikat masih menjadi pihak yang mendominasi Indonesia dalam berbagai aspek khususnya ekonomi.
Pada masa Soeharto, Indonesia menjadi sasaran empuk imperialisme asing (AS, Inggris, Jepang) sehingga posisinya tidak lebih sebagai penyedia bahan mentah karena kekayaan alamnya, sumber buruh murah sekaligus pasar yang menggiurkan mengingat penduduknya yang melimpah.
Pada masa pemerintahan Soeharto, laju migrasi internasional meningkat pesat. Artinya, semakin banyak orang terutama perempuan dan berasal dari keluarga tani miskin di desa yang menjadi buruh migran di negeri lain seperti Malaysia, Arab Saudi, Kuwait, Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, Korea dan sebagainya.
Pada prakteknya, para buruh migran mengalami penderitaan dan penindasan semenjak direkrut oleh calo, penyalur atau agen, saat berada di penampungan, selama bekerja di luar negeri dan sesampainya kembali di Indonesia. Masih berlakunya ekonomi kolonial di Indonesia telah membuat angkatan kerja yang ada memiliki tingkat pendidikan dan kecakapan yang sangat rendah. Dengan keadaan seperti itu, maka bisa dipastikan bahwa sebagian besar buruh migran Indonesia hanya mengisi jenis pekerjaan dengan tingkat ketrampilan rendah dan upah yang sangat murah seperti misalnya pembantu rumah tangga
Pemerintah yang telah menjadi frustasi karena tidak mampu memecahkan masalah pengangguran lantas menjadikan ekspor manusia sebagai andalan. Pemerintah beranggapan bahwa buruh migran menjadi salah satu pemecahan masalah penyediaan lapangan pekerjaan dan pada saat yang sama peningkatan pendapatan negara. Sesungguhnya mengapa pemerintah sangat bersemangat menggalakkan ekspor buruh migran, salah satunya karena merupakan ladang emas bagi para aparatusnya yang korup. (Pahlawan Devisa?)
Sebagai akibat berlakunya ekonomi kolonial, maka terjadi perkembangan ekonomi yang tidak merata : antara desa dengan kota, antar daerah dalam satu propinsi, antar propinsi, antara pulau Jawa dengan luar Pulau Jawa. Di daerah-daerah yang ekonominya lebih terbelakang terdapat surplus (jumlah berlebih) tenaga kerja yang lebih besar dan tingkat pengangguran yang lebih tinggi. Hal ini mendorong penduduk untuk melakukan migrasi guna mencari pekerjaan termasuk dengan bekerja di luar negeri, baik secara resmi maupun tidak resmi.
NTT, NTB, dan Kalbar menjadi contoh konkret dari keadaan tersebut, di mana dengan tingkat perkembangan ekonomi yang sangat lambat, ketiga propinsi tersebut menjadi penyumbang besar bagi buruh migran yang bekerja di luar negeri.
3. MIGRASI DALAM PANDANGAN BIBLIS
3.1. KONTEKS PL:
A. ZIARAH ADAM:
            Kitab suci mencatat  bahwa ziarah yang paling pertama adalah ziarah  Adam: ziarah yang bermula dari tangan sang pencipta ketika  dia memasukii dunia ciptaan, sebuah perantauan tanpa tujuan, jaun dari taman  Eden (bdk. Kej 3:23-24; 4:15). Ziarah Adam ditandai dengan penyalagunaan kebebasan dan  ketidaktaatannya, namun Allah berkomitmen mendampinginya.
B. ABRAHAM:
            Ziarah Abraham  menjadi pola sejarah keselamatan sendiri sesuai yang dihayati oleh umat beriman. Bahasa yang digunakan, langkah-langkah perjalanannya dan relasi yang dibangunnya menyatakan bahwa ziarahnya sudah merupakan eksodus keselamatan, antisipasi ideal eksodus seluruh bangsa Israel (Kej. 12:1-4). Karena Iman, Abraham diam di sebuah tanah asing bersama Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahliwaris itu.Mereka semua adalah orang asing dan pendatang di bumi (Ibr. 11:8-10,13).
C. ZAMAN FIRAUN:
            Dari Mesir dalam pemerintahan Firaun, mulailah  ziarah eksodus yang agung. Berbagai tahap keberangkatan umat Israel, perantauannya di padang gurun yang kering, batu ujian dan pencobaan, dosa ketidaktaatan, masuknya ke dalam tanah yang dijanjikan, telah menjadi pola suri teladan keselamatan seluruh umat beriman (Bdk. 1Kor. 10:1.13).
            Eksodus menjadi kenangan yang menggairahkan ketika mereka kembali dari pembuangan di Babilonia. Deutro Yesaya  mencatat bahwa keluaran baru dikenangkan dalam nada syukur ketika Israel merayakan Paska (bdk. Yes. 43:16-21). Tujuan akhir dari ziarah Israel adalah persekutuan sepenuhnya dengan Allah dalam penciptaan yang baru (bdk. Keb.19).
D. PEMBEBASAN ISRAEL:
            Israel tidak berziarah sendiri. Allah selalu mendampingi mereka selama 40 tahun lamanya melwati padang gurun yang besar. Allah senantiasa mengingatkan mereka untuk tidak melupakan sejarah ketika mereka mulai menempati tanah yang baru: “janganlah menindas dan menekan orang asing, sebab kamu pun dahulu orang asing di tanah Mesir” (Bdk. Ul.10:19).
3.2. KONTEKS PB
Peziarahan suci berpuncak pada peristiwa inkarnasi. Semua umat manusia boleh melewati “jalan kebenaran dan hidup” (bdk. Yoh. 14:6). Ia sendiri rela turun dari kemapanannya sebagai Allah dan menjadi sama seperti manusia. Kelahiran Yesus berada dalam sebuah proses di jalan, mereka sedang dalam ”perjalanan” (bdk. Lk 2:1-7).
Ketika masih bayi, bersama kedua orangtuanya pergi ke Kenisah di Sion (bdk. Luk. 2:22-24), mereka harus mengungsi ke Mesir (bdk. Mt. 2:13-23). mengidentifikasikan diriNya sebagai orang asing (Bdk. Mt 25,35),  pengembara yang tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala (bdk. Lk 9,58), yang meninggalkan keluarga, tanah dan harta milik (Mt 10,28-31), menekuni perjalanannya menuju sebuah tanah air, Yerusalem (Lk. 9:51).
3.3. MIGRASI DALAM KONTEKS GEREJA:
Seperti Yesus di zamannya, Gereja saat ini berziarah melewati kota dan desa, melintasi batas-batas geogafis, batas budaya, kehidupan soisal, politik, ekonomi dan agama. Dalam peziarahan itu, Gereja membawa semangat Yesus yang solider dengan semua mereka yang miskin, terlantar dan yang menjadi asing dari tanah airnya. Gereja  mengambil bagian dalam kegembiraan dan harapan umat manusia,dalam kecemasan dan dukacitanya, berdiri bersama setiap lelaki dan perempuan  dari setiap tempat dan masa, guna membawa bagi mereka kabar baiktentang Kerajaan Allah, (GS, art.1).
Gereja yang dipersatukan oleh Kristus yang bangkit dan yang telah diperintahkan untuk menerima tugas perutusan “mewartakan Kerajaan Allah”, dan mendirikannya di tengah semua bangsa (Bdk. GS art. 76, LG art.  1, 5). Di sana Gereja menunjukkan peran misyonernya  menjadi“tanda dan perlindungan transendensi pribadi manusia”.
4. VISI MIGRASI DALAM KONTEKS GEREJA
            Migrasi adalah sebuah tanda zaman  yang mengandung harapan dan kegelisahaan yang perlu ditafsir dalam terang injil (bdk.GS art. 4).  Migrasi  menjadi salah satu jalan untuk mempromosikan  martabat manusia dan membangun dialog antar agama dan budaya lain, kaum migran sebagai obyek kasih keibuan gereja (obyek evagelisasi) dan sekaligus subyek  evagelisasi yakni pewarta-pewarta  injil yang handal (bdk. Evangelii Nuntiandi, 14; Pesan Paus Benediktus XVI untuk hari migran dan pengungsi tahun 2012 dalam majalahl’Osservatore Romano, no.43-26 oktober 2011).
Dalam kaca mata kristen migrasi (yang dipanggil keluar-ecclesia) adalah sebuah tanda peyelenggaraan ilahi (providensia). Orang-orang yang dipanggil keluar adalah  pribadi-pribadi yang adalah gambaran Allah sendiri.
Kaum buruh migran dan perantau tidak  boleh dianggap sebagai sebuah komoditas. Mereka adalah seorang manusia, dan karena itu, mempunyai hak-hak yang fundamental, dan tidak dapat dicabut yang harus dihormati oleh setiap orang dan di dalam setiap keadaan.(bdk. Caritas in Veritate art. 62).  Misi gereja(ad gentes) dalam dunia kontemporer adalah membawa cintakasih kepada semua manusia terutama mereka yang terasing dari tanah airnya  agar mereka bisa menemukan wajah Kristus (Bdk. Mt 25,35; Porta Fidei art. 6; Pesan Bapa Suci pada Hari minggu Misi ke-86).
5. PERHATIAN PASTORAL KITA:
Persoalan Pastoral Migran kita:
             Dari semua hal tersebut di atas kelihatan kompleksitas masalah yang dialami buruh migran di Keuskupan Larantuka,  baik dalam hal jenis maupun lokus dan penyebabnya. Jika ditarik satu benang merah, akar-akar persoalannya adalah  proses migrasi yang tidak aman(illegal) karena itu menulai banyak masalah, tidak produktif (lemahnya SDM dan managemen remitasi) dan tidak bermartabat ( tidak berprespektif HAM).
Harapan bersama tentang  Pasroral Migran dan Perantau di Keuskupan Larantuka yakni Umat Keuskupan Larantuka bermigrasi secara bermartabat, aman dan produktif.Perhatian kita lebih besar ke arah migrasi internasional sambil tidak melupakan migrasi  internal. Migrasi nasional atau internasional hendaknya  tetap melihat aspek-aspek:
a. Apek martabat:
            Berhubungan dengan eksistensi manusia sebagai subyek dari migrasi yang memiliki identitas, integritas, religiositas,  dan kebebasan untuk bermigrasi tanpa tekanan;
b. Aspek aman:
            Berhubungan dengan dokumen-dokumen yang dituntut, jaminan hidup dan keselamatan, peran dari institusi-institusi yang bertanggungjawab;
c.Aspek produktivitas:
            Dalam hubungan dengan tata kelola remitansi dan keahlian (SDM) untuk kehidupan pribadi dan keluarga.
PENUTUP
            Arus buruh migran dan peratau di wilayah keuskupan Larantuka, menutut Gereja Umat Allah di Keuskupan Larantuka untuk meminta tanggapan yang bijaksana. Adalah baik bila kita bersama-sama membedah persoalan ini dalam terang injil dan membumikannya melalui peran misyoner gereja. Kerjasama multi pihak menjadi penting  ketika kita berhadapan dengan segudang masalah yang ditimbulkan akibat migrasi yang tidak beraturan dan tidak aman. “Kasih Kristus menguasai kita” (2Kor 5:14)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar